KIP #2 : Akidah yang Lurus

Apakah itu akidah?

Ada yang berarti sebagai ikatan. Mengapa dinamakan dengan ikatan? Karena untuk mengikat antara manusia dengan keyakinannya. Ada akidah islam yaitu tauhid yang menyatukan manusia dengan Allah STW. Dalam islam, akidah ini disebut dengan iman yang meyakini keesaan kepada Allah SWT yaitu akidah 

Mengapa harus mempunyai akidah dan mempelajarinya?

Ada 4 hal yang wajib bagi setiap muslim yang harus tahu
1.      Ilmu akidah : pengetahuan tentang apa itu Allah siapa Allah dan bagaimana kekuasaan Allah
2.      Ilmu fiqh : tata cara beribadah minimal beribadah untuk diri kita sendiri
3.       Ilmu Al-Quran : yaitu belajar membacanya dan memahami maknanya serta mengamalkan, mengajarkan dan menjaganya
4.       Hadist : sunah-sunah Rasul

Akidah adalah sesuatu yang diyakini dengan hati, mengatakan dengan lisan yaitu bersaksi/berikrar, dan mengamalkan dengan perbuatan. Jika diantara 3 ini salah satu saja hilang, maka tidak bisa dikatakan sah dalam beriman. Jika orang hanya yakin dalam hati tapi tidak mau mengikarkan dan mengamalkan maka tidak sah menjadi seorang muslim.

Abu Thalib, paman Nabi Muhammad SAW yang sangat mencintai Rasul. Abu Thalib membenarkan apa yang dibawakan oleh Rasul hanya di hatinya. Akan tetapi sampai akhir hayatnya, Abu Thalib tidak mengikrarkan dua kalimat syahadat. Sehingga beliau mati dalam keadaan kafir. Karena sangat mencintai dan melindungi Rasul, maka diringankan siksanya di neraka. Yaitu menginjak kerikil sehingga otaknya mendidih.Ada orang yang menampakkan bahwa dia orang muslim tapi hatinya tidak beriman, dan itu termasuk golongan orang munafik

Urgensi mempelajari akidah

Perumpamaan akidah seseorang adalah seperti pohon. Secara garis besar, pohon terdapat tiga bagian:
1.       Akar yang kokoh menghujam tanah
2.       Cabang-cabangya mejulang tinggi
3.       Batangnya kuat dan kokoh

Akar disebut dengan iman atau ilmu akidah, batangnya diebut sebagai islam, sementara rantingnya adalah ikhsan yang displikasikan dalam akidah. Ketiga hal ini seperti segi tiga yang tidak boleh terputus titiknya. Akar itu tidak terlihat di dalam tanah, sama seperti akidah yang tidak terlihat di dalam hati. Sementara kebaikan yang dilakukan, bisa dilihat. Akan tetapi akidah yang di dalam hatilah yang penting.

Perumpamaannya saat pohon rantingnya ditebang, maka dia masih bisa menumbuhkan ranting yang baru. Sama seperti seseorang yang akhlaknya jelek, tapi punya akidah yang kokoh, maka akan bisa menumbuhkan akhlak yang baik kembali. Sedangakan jika akidahnya yang rusak, maka akan sulit menumbuhkan akhlak yang baik.

Muslim yang baik, akidahnya yang kuat, ibadah yang rajin, dan bermanfaat untuk sesame manusia.
Saat tidak punya akidah, walaupun kebaikannya terlihat, tapi tidak akan ada artinya di dunia. Sama seperti pohon yang hanya tinggal batang dan ranting yang hanya akan menjadi kayu bakar di neraka.
Niat, amal dan muhasabah tiga unsur yang tidak boleh hilang dari manusia

Niat : ikhlas dan dikerjakan sesuai dengan tuntunan. Jika salah satu hilang maka tidak akan sah urusan ibadahnya. Realisasi dari niat adalah amal yang akan mendapatkan hasil. Lalu muhasabah untuk mengevaluasi hasil yang telah didapat. Saat ingin mendapatkan hasil yang baik, maka harus dicapai dengan planning dan cara yang baik. Untuk itu membutuhkan muhasabah saat kita ada kekurangan dalam niat maupun ibadah saat hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan keinginan.

KIP #1 : Sukses di Tanah Rantau

Jauh dari orang tua untuk mencari ilmu bagi seorang mahasiswa adalah perkara yang biasa namun sebenarnya sangat sulit untuk dijalankan. Saat merantau tentu saja pengawasan dari orang tua tidak akan seketat waktu bersama di rumah.  Akan banyak godaan yang bisa mengganggu tujuan utama pergi merantau. Untuk itulah, pada hari Rabu, 31 Agustus 2016 yang bertempat di Ruang V Fakultas Biologi UGM, KIP hadir dengan mengusung judul “Sukse di Tanah Rantau” yang disampaikan oleh Dr. Okrizal Eka Putra Lc, M.Ag. dengan harapan agar mampu memberikan solusi tentang masalah tersebut terhadap mahasiswa.

Sebelum masuk ke acara inti, pembicara memberikan pengantar tentang perbedaan cara mendidik seorang anak dan seorang dewasa. Mendidik seorang anak, membutuhkan kesabaran, seorang anak harus diawasi dalam proses belajarnya, dan cara mengajarnya dengan konsep bermain. Sedangkan mendidik seorang dewasa, seperti halnya mahasiswa, harus belajar secara mandiri karena sudah tidak ada yang mengawasi disaat jauh dari orang tua. Oleh karena itu, sebagai seorang mahasiswa harus merubah pola pikir untuk menjadi pribadi yang mandiri.

Berangkat dari motivasi, begitu banyak macam dorongan yang ada pada mahasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Akan tetapi, motivasi untuk menambah ilmu karena Allah adalah motivasi yang baik dan seharusnya dimiliki oleh seorang mahasiswa. Jika ilmu menjadi motivasi, maka kita akan memiliki komitmen. Komitmen itu sangat penting, karena saat di perantauan, pasti akan ada begitu banyak godaan. Dengan adanya komitmen ini, bisa menjadi pembatas sehingga tidak terpeleset oleh godaan-godaan tersebut.

Pendidikan seorang anak, ada saatnya harus pisah dengan orang tua. Seperti halnya Rasul yang mengalami perpisahan dengan orang tuanya. Rasul dibawa merantau, bahkan sampai kakek Rasul mencarikan ibu susu untuk beliau, yaitu Halimah. Dengan demikian, fase dimana jauh dari orang tua dalam proses pembelajaran adalah penting.


Dari materi yang disampaikan oleh Dr. Okrizal, dapat ditari kesimpulan bahwa motivasi yang harus dimiliki yaitu ilmu dan komitmen. Motivasi tersebut menjadi kunci bagaimana seorang mahasiswa mampu meraih kesuksesan. 

Stadium General KIP 2016 : Belajar Nikmat, Ngaji Mantab


Hari Jumat, 19 Agustus 2016, Jamaah Mahasiswa Muslim Biologi (JMMB) mengadakan acara Stadium General Kajian Islam Pekanan (KIP) bagi Mahasiswa Baru Fakultas Biologi UGM. “Belajar Nikmat, Ngaji Mantab” merupakan tema yang diusung pada kegiatan yang merupakan awal perkenalan dan dimulainya KIP untuk tahun 2016 ini.

KIP sendiri merupakan kegiatan Kajian Klasikal rutin yang diadakan setiap hari Rabu di Fakultas Biologi selama 1 semester. KIP diadakan sebagai sarana mengingatkan kita akan pentingnya hidup dalam islam serta mendidik jiwa muslim berkarakter saintek. KIP Bersifat wajib bagi setiap mahasiswa baru Fakultas Biologi.


Kondisi Peserta

“Pada tahun ini, rencananya KIP akan diadakan sebanyak 10x dan KIP perdana akan diadakan pada tanggal 31 Agustus 2016”, jelas Rendi Mahadi selaku Ketua Panitia KIP 2016, saat penyampain materi ke-KIP-an. Selain KIP, ada yang berbeda pada tahun ini, yakni dibukanya kelas baca Al Quran (tahsin) yang akan diadakan setiap hari Senin dan dimulai tanggal 29 Agustus 2016 . Kelas Tahsin sendiri dibagi menjadi 3 kelas. Pembagian kelas ditentukan dengan placement test yang melihat kemampuandari masing-masing individu. Placement test dilakukan setelah acara Stadium General ini usai.

Setelah pemaparan mengenai ke-KIP-an, acara selanjutnya ialah penyampain materi bertemakan “Belajar Nikmat, Ngaji Mantab” oleh Bapak Dr. Budi Setiadi Daryono, M, Agr, Sc. Pak Budi menyampaikan bahwa seorang Muslim satu dengan lainnya adalah satu saudara. Bak satu tubuh, apabila ada bagian tubuh yang sakit maka bagin tubuh yang lain akan merasakan sakit pula. Perkuatlah agama islam dengan mengkaji Ilmu. Mengkaji ilmu tidak harus di masjid atau di sekolah, tetapi bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun. Pentingnya mengkaji dan menuntut ilmu telah dipertegas dalam beberapa surah Al Quran antara lain Al Mujadalah : 11, Az Zumar : 9, dan At Thaha : 114.

“Menyatukan dzikir dan fikir dengan cara mengingat Allah SWT. Jangan sampai kita pandai fikirnya saja, sedangkan jiwanya lemah. Dua-duanya juga harus sama-sama kuat. Jadilah seorang muslim yang kuat Ilmunya, yang memiliki tata karma dan akhlak yang baik sehingga bisa menjadi tauladan yang lain. Mulia di dunia dan Akherat.”, begitulah beberapa pesan yang disampaikan oleh pak Budi.


Harapannya, KIP tahun ini semoga lebih baik dari yang sebelum-sebelumnya. Mendatangkan manfaat bagi setiap orang. Dan senantiasa mendapat Rahmat dan Ridha-Nya Aamiin In Syaa Allah.. 

Temu GAMADA Muslim : Biolog Muda, Muslim dan Prestatif


Temu Gamada Muslim Biologi 2016

Jama’ah Mahasiswa Muslim Biologi kembali mengadakan acara dalam rangka menyambut mahasiswa baru tahun 2016 yang sering kita kenal dengan sebutan “Temu Gamada Muslim” yang dirangkai dengan tema “Bangga Menjadi Biolog Muslim Prestatif”  Tema ini diangkat mengingat jenjang mahasiswa adalah jenjang yang potensial untuk mengembangkan diri dan menyelami pribi menjadi seorang muslim yang prestatif  terkhusus pada bidang biologi. Acara ini dilaksanakan pada hari Jum’at, 10 Agustus 2016 di ruang seminar dan ruang sidang bawah Fakultas Biologi. Mahasiswa baru yang hadir sebanyak 92 orang terdiri dari 59 putri dan 33 putra.

Temu gamada muslim dibuka dengan tilawah oleh Lalu Gunawan (2015) dan Fadhil Azhari (2015). Kemudian dilanjutkan dengan sambutan oleh ketua PMB Jundi (2015). Seanjutnya disambung dengan acara talkshow.

Acara yang bertemakan “Bangga Menjadi Biolog Muslim Prestatif” ini menghadirkan dua orang pembicara yang ahli dibidangnya masing – masing, yakni Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc. dan Dr. med. ved. drh. Hendry T.S.S.G. Saragih. M.P. Kedua pembicara berbagi pengalaman mereka kepada mahasiswa terkhusus gamada muslim biologi 2016 melalui acara talkshow menarik yang dimoderatori oleh Fajar Priyambada (2011) dengan pembawa acara Satrio Nurullah (2014) dan M. Fathi R. (2014).


Talkshow 1

Talk show pertama dengan pembicara Budi Setiyadi Daryono selaku dosen di fakultas Biologi UGM yang sekaligus menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Biologi. Beliau memulai steatment dengan surah Ar-Rahman : 55

“fabiayialaaairabbikumatukadziban”
Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?

Menjadi seorang biolog merupakan anugerah tersendiri. Melihat banyak sekali aspek yang bisa dikaji dan diperdalam lebi jauh dalam bidang biologi. “Sebenernya biologi itu banyak aspeknya, banyak nikmat Allah SWT yang berkaitan dengan makhluk hidup. Sehingga objek yang akan dikaji begitu tersebar luas. Tanpa disadari Rasulullah pun adalah seorang biolog. Berdasarkan kisah, pernah suatu ketika Rasulullah dapat menenangkan seekor unta, beliau dapat menundukkan unta tersebut. Ini karena Rasulullah mengetahui perilaku unta tersebut. Hal ini mencirikan rasulullah seorang biolog yang mana Rasulullah memiliki kepiawaian  bagaimana seharusnya memperlakukan hewan sebagaimana layaknya seorang biolog.”Ujar beliau.

Tak hanya sekedar biolog, tetapi menjadi biolog yang prestatif adalah acuan dari kegiatan ini. Bapak Budi mengatakan bahwa prestatif merupakan bagaimana seseorang menghasilkan suatu karya yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar juga ekosistem. Seperti karya beliau yang mengmbangkan berbagai varietas melon di Fakultas Biologi. “Gajah saja mati meninggalkan tanduk, kita seorang manusia jangan sampai setelah mati tidak meninggalkan apa apa.” Intinya kalau ada niat baik dan tentunya usaha, in syaa Allah prestasi itu datang sendiri dengan tidak dibarengi kesombongan.


Talkshow 2

Beranjak ke sesi selanjutnya berbicara mengenai kiat-kiat beliau sampai akhirnya mencapai titik kesuksesan seperti saat ini. Pak Budi dengan gamblang membeberkan kiat-kiatnya selama ini. Berawal dari niat, niatkan semua apa yang dilakukan adalah bagian dari ibadah. Kemudian upayakan mengisi waktu dengan aktifitas positif. Selanjutnya berusaha keras, semuanya diupayakan semaksimal mungkin dengan sungguh sungguh. Karena Allah menyukai seorang muslim yang kuat. Kuat secara fisik, kuat secara ilmu, kuat secara amal. Dan pada akhirnya jangan sampai dibarengi dengan kesombongan.

Rangkaian talkshow sesi pertama ditutup dengan statement dari beliau “ Kesuksesan tidak diperoleh secara instan, semua butuh proses, jangan terburu – buru, semua butuh kesabaran, sungguh – sungguh, keseriusan, bekerja hanya mengharap keridhoan Allah maka semua kesuksesan akan datang kepada kita. Dan tentunya semua atas izin Allah, in syaa Allah.

Talkshow sesi kedua berlanjut dengan narasumber yang tak kalah mengagumkan yakni Dr. med. ved. drh. Hendry T.S.S.G. Saragih. M.P. yang sekaligus merupakan salah satu dosen di fakultas biologi. Talkshow kedua lebih mentitik beratkan pada “bagaimana menyeimbangkan antara aktif berorganisasi tanpa melupakan kewajiban kuliah dan agama” topic ini diangkat senada dengan background dari narasumber yang semasa kuliahnya dahulu sudah aktif dalam organisasi namun tetap bisa berprestasi.

Beberapa pertanyaan diajukan oleh moderator, semua dijawab dengan sangat inspiratif. Pengalaman yang beliau sampaikan, seakan – akan mengajak para pendengarnya untuk tidak hanya menjadi mahasiswa yang berkutat hanya pada masalah akademik, akademik memang sangat penting tapi masih banyak hal yang juga tak kalah penting dan menarik yang dapat meningkatkan kapasitas pribadi. Ujar beliau.

Beliau juga menyampaikan bahwa dalam dunia kerja, sangat jelas ada perbedaan antara mehasiswa yg aktif dalam organisasi dengan mahasiswa yang hanya menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah – pulang, kuliah – pulang). Mahasiswa yang aktif dalam berorganisasi, pengalaman yang didapatkan selama organisasi lah yang mendidiknya menjadi terlatih. Namun tidak juga dipungkiri, banyak mahasiswa yang kebablasan organisasi dan akademiknya terbengkalai. Disini yang perlu dibenah adalah managemen waktu. Management waktu adalah sesuatu yang sangat penting.  

Mengikuti kegiatan organisasi menjadikan kita memiliki visi yang lebih terarah. Sesibuk apapun, manage waktu sangat diperlukan. Sesibuk apapun, tetap ibadah kepada Allah harus diutamakan.” Sambung pak Hendry.

Jangan menjadi mahasiswa rumahan, cobalah menjadi mahasiswa yang punya visi kedepan. Manage waktu itu perlu, akademik jangan ditinggalkan serta ibadah tetap dijalankan”   petikan kata motivasi diatas merupakan closing statement yang diberikan narasumber kepada para mahasiswa baru biologi 2016.


Ice Cream Party

Acara kembali dibuka dengan penampilan nasyid dari JMMB. Setelah itu pengumuman KIP (Kajian Islam Pekanan) yang merupakan suatu kegiatan yang wajib bagi mahasiswa baru.

Tibalah di penghujung acara, para peserta disuguhkan dengan sesi “ice cream party” yang mana sekaligus merupakan penutup dari rangkaian acara Temu Gamada Muslim 2016. 

RADIOLOGI : Menggemakan Ramadhan dengan Al-Qur’an


Kegiatan di desa binaan

Bismillahirrahmanirrahiim..

Kegiatan Ramadhan di Biologi (RADIOLOGI) 1437 H kembali dilaksanakan di Fakultas Biologi UGM. RADIOLOGI merupakan rangkaian kegiatan untuk meramaikan Ramadhan di Fakultas Biologi UGM dengan mengangkat tema “Al-Qur’an”. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan civitas akademika khususnya mahasiswa tidak melewatkan dengan sia-sia momentum Ramadhan karena teralihkan oleh UAS yang berjalan bersama.

Rangkaian kegiatan Radiologi diawali dengan Kajian Tarhib Ramadhan 1437 H sekaligus pembukaan RADIOLOGI 1437 H pada hari Senin tanggal 23 Juni 2016 di Ruang Seminar Fakultas Biologi UGM. Kajian ini diisi oleh Ust. Andi Alif dengan tema “Menggapai Puncak Keberkahan Ramadhan dengan Bingkai Al-Qur’an”. Dalam kajian ini dibahas mengenai berbagai ‘persiapan amal’ untuk menyambut bulan Ramadhan juga pentingnya membuat target dan amal unggulan pada bulan Ramadhan salah satunya adalah memperbanyak bacaan Al-Qur’an.


Opening RADIOLOGI

Kegiatan selanjutnya adalah silaturahmi alumni JMMB sekaligus memperingati Milad JMMB ke 17. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 1 Juni 2016 dan dihadiri oleh anggota inti dan kehormatan JMMB juga Fajar Sofyantoro sebagai alumni yang diundang. Kegiatan ini berisikan tentang pengalaman-pengalaman beliau selama menjadi mahasiswa. Silaturahmi juga dilakukan ke rumah salah satu dosen Fakultas Biologi UGM yaitu Bapak Abdul Rahman Siregar. Kegiatan silaturahmi ini dilakukan untuk berbagi pengalaman juga menjalin silaturahmi dengan dosen.

Kajian pun dilaksanakan sebanyak dua kali. Kajian pertama berjudul ‘Sudah Benarkah Puasa Kita?” yang diisi oleh Ust. Ransi Mardi yang membahas tentang rukun dan syarat puasa. Harapannya tidak sia-sialah ibadah puasa yang kita lakukan pada bulan Ramadhan. Kajian kedua berjudul “Menjaga Cahaya Ramadhan dengan Al-Qur’an” yang diisi oleh Ust. Afifi. Kajian ini berisi tentang bagaimana menjaga cahaya hati dalam bulan Suci Ramadhan dengan selalu berinteraksi bersama Al-Qur’an sehingga diharapkan Ramdahn yang dilalui tidak sia-sia.


Penutupan RADIOLOGI

Kegiatan RADIOLOGI ditutup dengan “Ramadhan di Desa Binaan” berlokasi di Dusun Pendul pada hari Sabtu, 18 Juni 2016. Kegiatan ini dilakukan bekerjasama dengan Remaja Dusun Pendul yang menjadi pengajar di Masjid Al-Ashr –lokasi kegiatan. Ramadhan di Desa Binaan ini diisi dengan berbagai jenis lomba seperti wudhu, adzan, hafalan Al-Qur’an dan lainnya, dengan adanya kegiatan ini diharapkan anak-anak dusun pendul –selaku peserta- dapat termotivasi untuk beribadah lebih baik dan memperkuat silaturahmi antara civitas Fakultas Biologi UGM dengan warga Dusun Pendul. Selain lomba, kegiatan lain yang dilakukan salah satu mahasiswa adalah memberikan kultum sebelum buka bersama oleh saudara Jundi dan dilanjutkan buka bersama warga Dusun Pendul.

Dalam sela-sela kegiatan besar tersebut dilakukan juga kegiatan kultural seperti Malam bina iman dan taqwa (Mabit), bagi-bagi kurma kepada civitas akademika Fakultas Biologi UGM, Belajar Bersama BioMSC (BBB) untuk perisapan menempuh Ujian Akhir Semester, dan Biologi Bertilawah. Kegiatan RADIOLOGI priode ini diharapkan dapat menjadi sarana bagi Mahasiswa khususnya mahasiswa muslim Fakultas Biologi UGM untuk bersemangat dalam meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. dan harapan kedepannya civitas akademika khususnya mahasiswa muslim Fakultas Biologi UGM dapat merasa memiliki kegiatan ini dan kegiatan ini lebih bermanfaat dan berkembang dari waktu ke waktu.


[RADIOLOGI] Menjaga Cahaya Ramadhan dengan Al-Qur'an



By : Ust. Afifi

Bismillahirrahmanirrahiim..

Kebaikan secara mutlak tidak akan kita dapatkan kecuali kita mampu memahami agam Allah SWT, jika tidak memahaminya bagaimanapun keadaan orang tersebut pasti dalam kondisi ancaman/bahaya. Ada dua macam orang, yaitu orang yang punya kecenderungan terhadap agama dan orag yang tidak punya kecenderungan terhadap agama. Saat orang itu tak punya kecendeungan agama dan orang yang punya kecenderungan terhadap agama tetapi tidak punya /tidak memahami dengan agamanya, maka dia sama-sama dalam kondisi yang berbahaya. Orang yang tidak punya kecenderungan terhadap agama dan tidak memahami agama, maka dia akan tersesat dalam hawa nafsumya, sedangkan orang yang punya semangat atau kecenderungan terhadap agamanya sangat tinggi, namun tak mempunyai pemahaman terhadap agama, maka bisa terjerumus kedalam kesesatan (aliran sesat). Sehingga kita harus punya kecenderungan terhadap agama Allah dan memahaminya dengan benar.

            Al-Quran diturunkan pada bulan Ramadhan, yang Al-Quran akan menjadi petunjuk bagi manusia, dan menjadi penjelas (mejelaskan petunjuk-petunjuk Allah), maka saat Al-Quran mampu melekat pada hati manusia, maka bisa menjadi al-furqon (pembeda mana yang baik dan mana yang benar). Dia akan membenci segala sesuatu yang dibenci Allah dan Rasul-Nya dan mencintai apa yang Allah dan Rasul cintai.

            Allah menjadikan hakikat kehidupan itu saat seseorang bersama dengan Al-Quran. Allah memberikan ungkapan untuk Al-Quran :
1.      Ar-Ruh dimana akan memberikan ruh terhadap jasad yang mati. Ar-Ruh di sini yaitu memberikan kehidupan. Ada tingkatan kehidupan yaitu yang paling rendah adalah kehidupan jasad saat ruh ditiupkan kepada janin, selanjutnya kehidupan hati saat seorang hamba mendapat risalah-risalah (menyambut seruan) Allah dan Rasul-Nya.

      Keberadaan Al-Qur’an merupakan nikmat yang paling SPESIAL

Diberikannya Al-Quran kepada kita adalah nikmat yang sangat besar, dimana Allah memerintahkan kita untuk berbangga dan bergembira dengan adanya nikmat ini (turunnya Al-Quran). Mengapa keberadaan Al-Quran adalah nikmat yang paling spesial? Karena Al-Quran akan membimbing kita untuk mempunyai pemahaman iman yang benar, akan membimbing kepada jalan yang lurus, saat kita tidak terbimbing Al-Quran, maka sesungguhnya kehidupan kita akan tersesat. Karena Al-Quran akan membimbing kita menuju kebahagiaan yang hakiki.
            
Kebahagiaan sekarang, apakah benar itu kebahagiaan?

Kebahagiaan itu letaknya di hati. Para ulama mengatakan bahwa bahagia itu adalah tenangnya hati dan lapangnya jiwa, sehingga bahagia itu letaknya bukan di materi. Maka betapa mahalnya hidup dengan bimbingan Al-Quran ketika mampu menyelamatkan manusia dari kesesatan. Barang siapa bermuamalah dengan Al-Quran dengan baik, maka kita seperti berdagang dimana selalu mendapatkan keuntungan yang baik. Hidup bersama Al-Quran akan mendapatkan keuntungan terus menerus dan tidak akan pernah merugi. (Zl/06)


Allahu a’lam..

[Radiologi] Sudah Benarkah Puasa Kita?


By : Ust. Ransi M. Al-Indragiri

Bismillahirrahmanirrahiim..

Saat kita berbicara tentang puasa, pasti tidak akan pernah terlepas dari perintah-Nya dalam Q.S Al-Baqarah : 183 yang artinya,
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”

Kata as-shaum yang di dalam bahasa kita, diartikan sebagai puasa. Tetapi, kata as-shaum sebenarnya bermakna al-imsak yang artinya adalah peringatan. Peringatan di sini menunjukkan bahwa sebentar lagi akan tiba adzan subuh dimana memasuki waktu untuk berpuasa. Dengan kata lain, batasnya mulai berpuasa adalah saat adzan subuh. Selain berarti peringatan, al-imsak berarti menahan. Oleh karena itu, inti dari puasa adalah menahan. Akan tetapi kebanyakan orang mengerdilkan makna “menahan” dalam berpuasa hanya cukup menahan lapar, haus, dan tidak melakukan hubungan suami istri. Padahal, makna “menahan” dalam puasa selain dari menahan lapar, haus, dan berhubungan suami istri adalah dimana semua anggota tubuh juga berpuasa. Diantaranya :

a.       Menahan mata
Mata kita dijaga dari sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT, seperti melihat aurat orang lain dengan sengaja

b.      Menahan lisan
Menahan lisan di sini, dibagi menjadi tiga, yaitu menahan dari sikap ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba) dan dusta (berbohong). Ketika seseorang melaksanakan amal sholih, akan tetapi lisan tidak dijaga, maka sia-sialah amal sholih tersebut. Suatu hari ada sahabat yang pernah bertanya pada Rasul, seseorang yang baik amalannya, baik sholatnya, baik puasanya, tapi tidak bisa menjaga lisannya apakah orang tersebut akan masuk surga? Maka, Rasul menjawab bahwa  orang tersebut tidak akan masuk surga.

c.       Menahan telinga
Telinga kita dijaga dari mendengarkan sesuatu yang diharamkan dan dilarang oleh Allah SWT, seperti dijaga dari mendengarkan gosip, dijaga dari mendengarkan musik-musik yang melalaikan

d.      Menahan hati
Hati dijaga untuk selalu bersikap khusnudhon pada Allah, pada orang lain, maupun pada diri sendiri.

e.       Menahan tangan
Tangan kita dijaga dari hal-hal yang bisa mendholimi orang lain, seperti meminjam barang tapi belum meminta izin kepada pemiliknya dan dijaga dari menyakiti orang lain

f.       Menahan kaki
Kaki kita harus dijaga, jangan sampai pergi ke tempat-tempat yang bisa menimbulkan maksiat, dan menghindari tempat-tempat yang tidak ada manfaatnya seperti menghadiri konser-konser.

            Rasulullah pernah bersabda Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy dalam Al Kabir dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1084 mengatakan bahwa hadits ini shohih ligoirihi –yaitu shohih dilihat dari jalur lainnya) (rumaysho.com).

Padahal Allah menjanjikan tiga hal untuk orang yang melaksanakan puasa yaitu pahala yang berlipat ganda, pengampunan (puasa dapat menghapus dosa), dan derajad yang tinggi. Puasa akan bernilai pahala apabila mampu meninggalkan dosa-dosa yang besar maupun dosa yang kecil. Puasa merupakan tembok, perisai, maupun pembatas seseorang dari dosa. Apabila saat melaksanakan puasa, tidak bisa membatasi diri dari perbuatan dosa, maka puasa yang sedang dikerjakan adalah sia-sia. Untuk itu, agar puasa yang kita jalankan berkualitas, harus dibekali dengan ilmu. (Zl/06)

Allahu a’lam..



Referensi :
https://rumaysho.com/469-jangan-biarkan-puasamu-sia-sia.html

Kunjungan ke Dosen : Akademik Jalan, Amanah Juga!

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah pada hari Sabtu, 2 April 2016 telah dilaksanakan kunjungan kerumah dosen yang diprakarsai oleh Bidang Alumni dan Jaringan (BAJa). Kunjungan ini bertujuan untuk melebarkan sayap JMMB di ranah Dosen Fakultas Biologi. Kali ini kunjungan dilakukan ke rumah Bapak Yudo selaku Dosen Fisiologi Hewan Fakultas Biologi UGM. Beliau juga pernah menjabat sebagai Keua Umum JMMB pada tahun 2007.

Inti dari kegiatan yang dilakukan adalah berbagi cerita dan pengalaman beliau selama menjadi pengurus JMMB pada zamanya. Ditambahkan dengan cerita mengenai pengalaman beliau selama menjadi mahasiswa. Tak luput juga para pengurus JMMB yang sangat antusias dalam mengajukan pertanyaan mengenai relevansi program-program kerja yang ada saat ini dengan program kerja etika beliau menjabat.

Kunjungan ini ditutup dengan wejangan-wejangan beliau untuk para pengurus JMMB 1437 H. “Kalian sebagai mahasiswa jangan lupa amanah yang diberikan orang tua. Jangan sampai kegiatan kemahasiswaan menjadi alasan penyebab akadmik kita turun. Fokus pada akadmik, akan tetapi tetap laksnakan amanah yang ada dengan ikhlas. Insyaa Allah apabila dilakukan dengan ikhlas tidak hanya akan bermanfaat di dunia saja, akan tetapi di akhirat kelak”. Salah satu kutipan wajangan dari Bapak Yudo, walaupun sangat akrab terdengar ditelinga kita, akan tetapi itu meupakan pengingat untuk kita semua. Semangat menjalankan amanah yang ada. Dimanapun amanah yang kita ambil, tetap lakukan sebaik-baiknya. (Rn)


[Press Release] COROLLA : Ketika 'Mas Gagah' Datang


Assalamu`alaykum Warahmatullaahi Wabarakatuh

Yogyakarta - Hari Jum’at (18/03) Bidang Pengembangan Muslimah Jama’ah Mahasiswa Muslim Biologi (BPM JMMB) mengadakan Kajian Kemuslimahan COROLLA(Create from zero to the real shalihah) perdana di tahun 2016 ini dengan tema Ketika “Mas Gagah” Datang. Kajian ini dimulai pukul 11.30 WIB di Ruang Biodas Atas Timur dan diawali dengan melafalkan basmalah bersama-sama dipimpin oleh Tri Dewi Mardhotilah (2015) kemudian dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Muthia Arrushda (2015). Acara inti dari kajian ini diisi oleh Ustadzah Haya.

Secara garis besar kajian ini membahas mengenai sikap kita apabila ada laki-laki atau sebut saja “Mas Gagah” mendekati kita.Sebagai seorang muslimah yang baik kita harus menyeleksidahulu dengan mengetaui niat “Mas Gagah”. Apabila hanya sekedar untuk mengajak kita kearah maksiat atau sebut saja ‘berpacaran’ lebih baik bagi kita untuk menjaga jarak. Namun jika memang memiliki niat baik untuk ke jenjang yang lebih baik, maka dapat dipertimbangkan. Kita harus tahu informasi tentang dia, apa tujuan hidupnya, bagaimana akhlaknya dan yang paling penting adalah bagaimana agamanya. Selain itu hal yang perlu diperhatikan adalah ridho dari orang tua kita.

Jodoh itu perlu dijemput, kita harus berusaha(banyak bersilaturahim,beramal baik) dan berdo’a lalu memasrahkannya pada Allah. Jika kita ingin mendapatkan jodoh yang baik maka kita juga harus mulai memperbaiki diri kita, berikut hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mempersiapkan diri :

Pertama Niat (Lillahi ta’ala). Lalu perbanyak bersilaturahmi. Sebab, dengan bersilaturahmi, kita bisa mempererat tali persaudaran dan menambah teman atau kerabat. Kedua, siapkan mental karena saat menikah kita harus bisa menjadi “manager” yang handal. Terkadang, kita harus bisa beradaptasi dengan pasangan, ketika kita dihadapkan dengan situasi di luar kemampuan kita. Selain itu, kita harus menyiapkan materi (menabung) mulai dari sekarang, agar disaat kita menikah, kebutuhan akan materi dalam pernikahan bisa lebih ringan. Kemudian harus menyiapkan spiritualnya, misal sholat, puasa, dan lain sebagainya. Persiapkan pula sosialnya. Karena, dalam kehidupan berumahtangga, kita hidup tak akan sendiri. Ada tetangga yang berada di sekitar.  Oleh karenanya, kita harus lebih peka terhadap lingkungan, dengan belajar meningkatkan kepekaan sosial. Semua persiapan tersebut tidak harus dilakukan dengan urut, namun tetap memperhatikan agama sebagai kunci yang utama. (Tm/Lv/BPM)

Wassalamu`alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.



[Press Release] KASARI : Sudah benarkan shalat kita?



Bismillahirahmaanirrahiim...


Alhamdulillah Kajian Syariat Islam (KASARI) hadir kembali di tahun 2016. KASARI perdana ini mengusung tema Fikih Shalat dengan menghadirkan narasumber Ustadz Ransi Mardi Alindragiri. Bayu (2015) sebagai pemandu acara membuka KASARI tepat pada pukul 16.30 WIB kemudian dilanjutkan dengan tilawah oleh Porta (2015) dan pematerian oleh Ustadz Ransi mengenai Fikih Shalat.

Shalat merupakan salah satu dari sekian kewajiban yang harus dikerjakan umat islam yang sudah baligh. Secara bahasa shalat memiliki arti do’a dan dzikr (megingat). Sedangkan menurut istilah shalat memiliki arti sebuah ibadah khusus yang dibuka dengan takbiratul ihram dan ditutup dengan salam. Pembahasan shalat menjadi sangat penting untuk dikaji mengingat hadits-hadits Rosullah yang berbunyi :

·         Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

” إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : انَظَرُوْا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكْمَلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ ” . وَفِي رِوَايَةٍ : ” ثُمَّ الزَّكَاةُ مِثْلُ ذَلِكَ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ حَسَبَ ذَلِكَ ” .

Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala  mengatakan, ’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.”

Dalam riwayat lainnya, ”Kemudian zakat akan (diperhitungkan) seperti itu. Kemudian amalan lainnya akan dihisab seperti itu pula.” (HR. Abu Daud no. 864, Ahmad 2: 425, Hakim 1: 262, Baihaqi, 2: 386. Al Hakim mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih dan tidak dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim, penilaian shahih ini disepakati oleh Adz Dzahabi)

·         Dari Mu’adz bin Jabal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ
Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.” (HR. Tirmidzi no. 2616 dan Ibnu Majah no. 3973. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Ibarat sebuah bangunan, bangunan itu dinamakan agama islam. Syahadat adalah pondasi yang menjadi dasar dari bangunan dan shalat berkedudukan sebagai tiang dari bangunan tersebut. Bisa dibayangkan bagaimana jika suatu bangunan tidak memiliki tiang yang kokoh. Bagaimana jika suatu bangunan  memiliki tiang rapuh,tiang yang mudah runtuh. Maka bisa dipastikan keislaman kita merupakan keisalaman yang rapuh pula karena shalat merupakan ibadah utama yang akan pertama kali dihisab di akhirat nanti. Jika shalat kita baik, maka akan memberatkan timbangan amal baik kita karena shalat yang baik akan membuat amalan yang lain menjadi baik. Dan sebaliknya, jika shalat kita rusak, maka amalan-amalan baik kita akan menjadi sia-sia.

Terdapat tiga kategori dimana shalat dikatakan shalat yang rusak, yaitu :

1.      Shalat yang waktu pelaksanaanya ditunda-tunda
Diterangkan dalam Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-ma’un ayat 4 dan 5 bahwasanya orang yang shalatnya celaka ialah orang yang lalai terhadap waktu shalat yang berarti ia sengaja menunda-nunda shalat karena alasan yang tidak syar’i. Kemudian dalam Surat Maryam ayat 59 dijelasakan bahwasanya orang-orang yang menunda shalat nantinya akan ditempatkan di kawah neraka jahannam yang mana kawah ini bisa melelehkan gunung jika gunung tersebut melewati kawah tersebut. Na’udzubillahimindzaalik

2.      Shalat yang dilaksanakan dengan tidak khusyu’
Khusyu’ sendiri bermakna fokus pada apa yang sedang dilakukan yaitu beribadah pada allah. Perintah khusyu’ dalam shalat telah dijelaskan dalam Surat Al-mu’minun ayat 1-3. Kemudian Rosulullah SAW juga bersabda yang artinya : “Betapa banyak orang yang mendirikan shalat tapi tak mendapat apa-apa dari shalatnya melainkan capek dan lelah”. Karena shalat seseorang hanya dapat bernilai ketika ia mengerjakannya dengan khusyu’, maka khusyu; merupakan bagian dari shalat yang harus senantiasa kita mengusahakannya. Berikut ada beberapa tips khusyu’ dari Ustadz Ransi yang dapat kita terapkan :

(1)   Berdoa pada allah agar diberi hati yang khusyu’.
Artinya: Ya allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Mu dari hati yang tidak khusyu’(lalai), dari jiwa yang tidak pernah puas, dari ilmu yang tidak bermanfaat dan doa yang tidak dikabulkan.
(2)   Melakukan banyak amal shaleh dan meninggalkan sebanyak-banyaknya maksiat.
(3)   Banyak membaca al-quran
(4)   Membaca doa tiap keluar rumah
(5)   Membaca doa ketika berjalan menuju masjid
‘’Bismillahi aamantu billaahi i’tashomtu billaahi tawakkaltu ‘alaihi wa laa haulaa wa laa quwwata illaa billaahi’’
Artinya: Dengan nama allah, aku beriman kepada allah, aku berlindung kepada allah, aku bertawakkal kepada allah, tiada tipu daya kecuali hanya bagi allah.
(6)   Membaca doa ketika masuk masjid

اَللّهُمَّ افْتَحْ لِيْ اَبْوَابَ رَحْمَتِكَ
Artinya : “Wahai Tuhanku, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu

(7)   Medahulukan kaki kanan saat masuk masjid
(8)   Melaksanakan shalat qobliyah atau shalat takhiyatul masjid
(9)   Setelah membaca doa iftitah membaca doa :
Artinya : Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi maha mengetahui dari setan yang terkutuk.
 (10) Memperhatikan sungguh-sungguh apa yang dibaca. Baik bacaan al-quran maupun bacaan dalam shalat.
  (11) Ketika berdiri pandangan mata ke arah tempat sujud dan ketika duduk pandangan mata      ke arah pangkuan tangan.
 (12)  Usahakan untuk shalat di tempat yang kondusif.

3.      Shalat yang tidak dikerjakan sesuai dengan syarat dan rukunnya.
Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa pada suatu hari, seorang sahabat masuk ke dalam masjid. Saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam juga tengah berada dalam masjid, tepatnya di sudut masjid. Sebagai penghormatan terhadap masjid, sahabat tersebut melakukan shalat sunnah dua raka’at tahiyyatul masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam memperhatikan shalat sahabat tersebut. Usai mengerjakan shalat, sahabat itu mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam menjawab “Wa’alaikumussalam. Tolong ulangi shalatmu, karena sesungguhnya engkau tadi belum shalat!” Sahabat itu kaget dengan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam. Dengan tanda tanya dalam hati, ia kerjakan juga perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam. Ia mengulangi shalatnya kembali, secara tertib dari takbir sampai salam, sebanyak dua raka’at. Usai mengerjakan shalat, sahabat itu mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam menjawab “Wa’alaikumussalam. Tolong ulangi shalatmu, karena sesungguhnya engkau tadi belum shalat!” dan kejadian ini berlangsung terus menerus sampai akhirnya sahabat mengatakan “Demi Allah Yang telah mengutus Anda dengan kebenaran, saya tidak bisa shalat selain seperti shalat yang tadi. (Jika apa yang saya kerjakan tadi salah), maka ajarilah saya!” dan Dengan penuh kasih sayang dan kesabaran, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam mengajari sahabat tersebut. Beliau bersabda,

«إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الوُضُوءَ، ثُمَّ اسْتَقْبِلِ القِبْلَةَ فَكَبِّرْ، ثُمَّ اقْرَأْ بِمَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ القُرْآنِ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَسْتَوِيَ قَائِمًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلاَتِكَ كُلِّهَا»

“Jika engkau hendak melaksanakan shalat, maka lakukanlah wudhu’ dengan sempurna, kemudian menghadaplah kiblat dan ucapkanlah takbir, kemudian bacalah surat (ayat) Al-Qur’an yang mudah bagimu (yaitu setelah membaca surat Al-Fatihah), kemudian lakukanlah ruku’ sampai engkau thuma’ninah (tenang) dalam ruku’, kemudian angkatlah kepalamu sampai engkau berdiri secara sempurna, kemudian lakukanlah sujud sampai engkau thuma’ninah (tenang) dalam sujud, kemudian angkatlah kepalamu dan duduklah (di antara dua sujud) sampai engkau thuma’ninah (tenang) dalam duduk, kemudian lakukanlah sujud sampai engkau thuma’ninah (tenang) dalam sujud, kemudian angkatlah kepalamu sampai engkau thuma’ninah (tenang) dalam duduk (((dalam riwayat lain: kemudian berdirilah engkau sampai engkau thuma’ninah (tenang) dalam berdiri))), dan lakukanlah hal itu dalam seluruh (raka’at) shalatmu!”

Dari hadist diatas dapat disimpulkan bahwa sangat penting untuk mengetahui apa saja syarat dan rukun shalat secara menyeluruh karena banyak dari kita yang mungkin sudah merasa shalat kita ‘baik-baik saja’ tapi ternyata masih belum sesuai dengan syarat dan rukun yang diajarkan Rosulullah SAW. Padahal Rosul pernah bersabda :
“Shalatlah sebagaiamana aku shalat” (Ayr)

Wallahu a’lam


KASARI #2 yang insya allah diselenggarakan pada tanggal 11 April 2016 sekaligus membahas mengenai Fikih KKN  (ibadah dalam keadaan darurat). So, Save  the date, then come and join.. J